www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Di Sumatera Selatan, Ditemukan Katak dengan Tanduk Tak Bertulang

Posted by On 16.47

Di Sumatera Selatan, Ditemukan Katak dengan Tanduk Tak Bertulang

Katak tanduk lancip atau Megophrys lancip Katak tanduk lancip atau Megophrys lancip

KOMPAS.com - Untuk kesekian kalinya, ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan spesies katak baru dari Sumatra Selatan, Indonesia.

Katak yang kini dinamai Megophrys lancip itu pertama kalinya ditemukan para peneliti pada tahun 2013. Namun kala itu, spesies diidentifikasi sebagai jenis lain.

Setelah penelitian morfologi dan molekuler, katak dengan tanduk lancip itu ternyata memiliki karakter yang unik.

"Di atas matanya dan di bagian moncongnya ada tanduk yang meruncing," ka ta Amir Hamidy, peneliti reptil dan amfibi LIPI yang menemukannya.

"Tanduk ini berupa lipatan kulit dan bukan seperti tanduk dari tulang. Warna kulitnya yang menyerupai daun kering di lantai hutan," imbuhnya.

Amir mengatakan, habitat katak tanduk lancip ini berada di hutan primer atau sekunder, tepatnya di lantai hutan yang tak jauh dari aliran sungai yang jernih.

"Di wilayah Indonesia, katak tanduk lancip ini tersebar di Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Karakter katak ini endemik, jadi ciri-ciri katak di Jawa akan berbeda dengan di Sumatra atau Kalimantan," kata ahli herpetologi di LIPI.

"Warna kulit katak ini memang mirip dengan daun-daun kering yang ada di lantai hutan. Besar kemungkinan ini merupakan hasil adaptasi katak agar dapat survive dari predator," kata Amir.

Baca Juga: Peneliti LIPI Temukan Cecak Jenis Baru di Pulau Terpencil Indonesia

"Katak tanduk di Jawa atau Megophrys monta na memiliki tanduk di moncongnya lebih pendek daripada yang ada di Sumatra. Selain itu, selaput kaki katak tanduk di Jawa lebih lebar dibandingkan yang di Sumatra," kata Misbahul Munir, lulusan Institut Pertanian Bogor, yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Mirip dengan katak lainnya, katak tanduk lancip jantan ukurannya lebih kecil daripada katak betina.

"Selain ukurannya yang lebih kecil, katak tanduk lancip jantan juga memiliki nuptial pad atau bantalan untuk kawin, yang terletak pada bagian dorsal di ruang belakang jari tangan pertama dan kedua," kata Munir kepada Kompas.com, Jumat (6/7/2018).

"Bantalan kawin tersebut berfungsi saat musim kawin agar dapat berpegangan kuat dengan katak betina," katanya.

Baca Juga: Buaya Muara di Kali Grogol Susah Ditangkap, Ini Saran Ahli LIPI

Sementara itu, tes DNA juga dilakukan para ahli dengan mengambil spesimen dari otot dan hati katak yang sudah diberi tindakan euthanasia.

"Dalam meguji sebuah spesies, kita harus mengidentifikasi secara detail, tidak hanya dengan foto, tetapi juga harus spesimen. Hasil penelitian spesimen inilah yang menjadi acuan ilmiahnya, jadi kita ambil material DNA-nya dari otot dan hati," kata Amir Hamidy.

Setelah tes DNA, maka spesimen tersebut diawetkan agar menjadi acuan ilmiah dunia ilmu pengetahuan masa depan.

Sementara itu, Amir mengatakan, katak tanduk lancip yang unik ini ternyata menjadi favorit bagi para kolektor hewan, khususnya para pecinta katak.

"Bentuknya yang unik memang menarik perhatian para kolektor, dan katak tanduk lancip ini paling dicari karena khas dari wilayah Asia Tenggara," katanya. Penemuan tersebut sudah terbit di jurnal Zootaxa, 2018.


Berita Terkait

Peneliti LIPI Kembangkan Alat Deteksi Kanker seperti "Test Pack"

Basmi Kanker, Peneliti LIPI Kembangkan Terap i dengan Kurkumin dan Emas

Krisis Air Bersih Ancam Jakarta, LIPI Usulkan 2 Solusi

Gelembung "Ajaib" LIPI Bersihkan Sungai Jakarta dari Polusi

Peneliti LIPI: Tak Mengagetkan Ikan Makarel Terinfeksi Cacing Parasit

Terkini Lainnya

Analisis Genom Ungkap Kenapa Koala Bisa Makan Daun Beracun Ekaliptus

Analisis Genom Ungkap Kenapa Koala Bisa Makan Daun Beracun Ekaliptus

Oh Begitu 07/07/2018, 21:04 WIB Tak Bikin Suhu Dingin, Ini Efek Aphelion Sebenarnya

Tak Bikin Suhu Dingin, Ini Efek Aphelion Sebenarnya

Fenomena 07/07/2018, 18:06 WIB Gerhana Bulan Total 2018, Ini Bedanya dengan Super Blue Blood Moon

Gerhana Bulan Total 2018, Ini Bedanya dengan Super Blue Blood Moon

Oh Begitu 07/07/2018, 17:00 WIB Sederet Cara Ini Bisa Bikin Anda Terhindar dari Hipertensi

Sederet Cara Ini Bisa Bikin Anda Terhindar dari Hipertensi

Kita 07/07/2018, 13:04 WIB Dituding Sebabk   an Suhu Dingin, Apa Sebenarnya Aphelion?

Dituding Sebabkan Suhu Dingin, Apa Sebenarnya Aphelion?

Oh Begitu 07/07/2018, 10:36 WIB Benarkah Aphelion Terkait dengan Suhu Dingin di Indonesia?

Benarkah Aphelion Terkait dengan Suhu Dingin di Indonesia?

Oh Begitu 06/07/2018, 21:11 WIB Tak Hanya Terlama, Inilah Keistimewaan Gerhana Bulan 28 Juli 2018

Tak Hanya Terlama, Inilah Keistimewaan Gerhana Bulan 28 Juli 2018

Fenomena 06/07/2018, 20:33 WIB 3 Juta Tahun Lalu, Kaki Moyang Manusia Lebih Mirip Simpanse

3 Juta Tahun Lalu, Kaki Moyang Manusia Lebih Mirip Simpanse

Fenomena 06/07/2018, 20:05 WIB Di Sumatera Selatan, Ditemukan Katak dengan Tanduk Tak Bertulang

Di Sumatera Selatan, Ditemukan Katak dengan Tanduk Tak Bertulang

Fenomena 06/07/2018, 20:00 WIB Terjawab Sudah, Laba-laba Gunakan Aliran Listrik untuk Terbang

Terjawab Sudah, Laba-laba Gunakan Aliran Listrik untuk Terbang

Oh Begitu 06/07/2018, 19:29 WIB Ini Keunggulan Senjata Laser Star Wars ala China

Ini Keunggulan Senjata Laser Star Wars ala China

Oh Begitu 06/07/2018, 19:02 WIB 'Hujan Darah' Terjadi di Rusia, Ada Apa?

"Hujan Darah" Terjadi di Rusia, Ada Apa?

Fenomena 06/07/2018, 18:06 WIB Super Cepat dan Senyap, NASA Siap uji Coba Pesawat Supersonik Terbaru

Super Cepat dan Senyap, NASA Siap uji Coba Pesawat Supersonik Terbaru

Oh Begitu 06/07/2018, 17:02 WIB INFOGRAFIK: Fakta Sedotan Sejak 5.000 Tahun Lalu

INFOGRAFIK: Fakta Sedotan Sejak 5.000 Tahun Lalu

Oh Begitu 06/07/2018, 16:12 WIB Peneliti LIPI Temukan Cecak Jenis Baru di Pulau Terpencil Indonesia

Peneliti LIPI Temukan Cecak Jenis Baru di Pulau Terpencil Indonesia

Fenomena 06/07/2018, 12:32 WIB Load MoreSumber: Berita Sumatera Selatan

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »