www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sumatera Selatan

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Baru Satu Objek Jadi Warisan Indonesia

Posted by On 04.57

Baru Satu Objek Jadi Warisan Indonesia

ASET SEJARAH: Sejumlah kerangka manusia prasejarah yang terkubur di gua Harimau, Kabupaten OKU. Foto: JPG

SUMSEL â€" Hari ini (18/4), diperingati sebagai Hari Warisan Dunia (World Heritage Day). Itu merujuk pada situs atau cagar budaya yang diakui secara internasional oleh Unesco World Heritage Commitee. Sayangnya, di Provinsi Sumatera Selatan belum ada satu pun objek wisata atau cagar budaya dinobatkan sebagai warisan dunia.
Bahkan dari 958 titik objek dan daya tarik wisata (ODTW) di 17 kabupaten/kota Sumsel, baru satu yang diakui sebagai warisan Indonesia yaitu Candi Bumi Ayu di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). “Kalau mau jadi warisan dunia, harus jadi warisan Indonesia dulu,” ujar Kepala Dinas Kebuda yaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn, kemarin (17/4).
Persoalannya, kata Irene, mengajukan warisan dunia itu negara. Bukan provinsi. “Kita hanya bisa usulkan menjadi warisan Indonesia. Kalau layak baru diusulkan menjadi warisan dunia,” ungkapnya. Dikatakan, Sumsel baru tahun 2017 usulkan objek wisata jadi warisan Indonesia dan baru Candi Bumiayu yang disetujui.
“Setiap tahun itu kan yang diusulkan cuma satu ke tim ahli cagar budaya nasional Indonesia. Setelah itu dikaji tim, sebelum ditetapkan layak atau tidak,” ujarnya. Makanya Provinsi Sumsel menyeleksi ODTW yang layak atau tidak diusulkan. Misal situs itu harus mewakili zamannya. Ada beberapa cagar budaya atau ODTW yang tidak bisa diajukan karena tidak memenuhi syarat, misal ada bangunan modern di zona inti.
“Candi Bumiayu ini yang paling layak. Karena menjadi peninggalan Kerajaan Sriwijaya abad ke-9 yang sebarannya tak hanya di Palembang, tapi Sumatera hingga Asia Tenggara. Ada nilai pentin g kerajaan ini bagi sejarah di dunia,” imbuhnya. Artinya Indonesia ikut mewarnai peradaban dunia. Makanya layak dan ada potensi jadi warisan dunia. “Sebenarnya Candi Bumiayu ini kan peninggalan agama Hindu, meskipun Sriwijaya itu kerajaan beragama Buddha, tapi rajanya Hindu kala itu,” sebutnya.
Setelah Candi Bumiayu, kata Irene, tahun ini pihaknya mengusulkan Gua Harimau karena mewakili zaman prasejarah di Indonesia. “Tapi tentu nanti dikaji lagi oleh tim nasional kelayakannya, sebelum disetujui,” bebernya.
Irena beralasan, pihaknya memilih gua ini karena di sana ditemukan kerangka manusia berumur 3.000-5.000 SM (sebelum masehi). “Lalu di lapisan bawahnya ditemukan perkakas seperti serbuk bunga, bahan makanan, dan lainnya dengan usia 15 ribu SM,” bebernya.
Pihaknya juga mempertimbangkan Megalitikum di Lahat-Pagaralam diajukan menjadi warisan Indonesia. Diharapkan, kata dia, dengan banyaknya ODTW Sumsel menjadi warisan Indonesia, akan ber-impact secara buday a maupun pariwisata. “Berarti Sumsel ikut mewarnai peradaban Indonesia dan ini akan jadi ajang promosi wisata,” tandasnya.
Kadisbudpar PALI, Supriyatno, menjelaskan, banyak potensi wisata di Bumi Serepat Serasan ini. Namun Candi Bumiayu yang sudah layak jadi warisan dunia. “Sebab itu satu-satunya cagar budaya berbentuk candi di Sumsel,” ujarnya. Saat ini pengelolaanya sendiri terus ditingkatkan, namun perlu dukungan dan dorongan pemprov dan pemerintah pusat, seperti fasilitas pendukung. Candi Bumiayu sendiri berdiri di lahan seluas 76 hektare, ditemukan oleh EP Tombrink dalam kondisi terkubur tanah dan rusak pada 1864. Diperkirakan candi dibangun pada 819 Saka atau 897 Masehi.
Kadisbudpar OKU, Paisol Ibrahim, mengaku, untuk Gua Harimau juga diupayakan masuk cagar budaya nasional dan akan diusulkan ke Dirjen Kebudayaan Pusat. “Ini tak lepas dari historisnya karena di sana ditemukan kerangka manusia purba berusia ribuan tahun,” ujarnya. Tapi usulannya per paket den gan Gua Putri, tidak bisa satu objek wisata.
Sebelumnya, akan dinilai dulu oleh tim penilai cagar budaya provinsi dan kabupaten, dan ditetapkan dengan SK Bupati sebagai cagar budaya kabupaten. “Setelah ditetapkan statusnya, kita berharap pemerintah pun memberikan bantuan pembiayaan seperti Candi Borobudur,” katanya.
Di lokasi Gua Putri, Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidangaji OKU sendiri kini tengah dibangun musium purbakala oleh Dirjen Kebudayaan Pusat. Lokasinya juga berdekatan dengan Gua Harimau. “Dibiayai APBD senilai Rp30 miliar dan dibangun sejak 2015 lalu,” cetusnya. Musium ini dikabarkan akan menjadi museum purbakala termegah di luar Jawa.
Di Lahat sendiri, hasil pendataan sementara ada 232 benda megalitikum menyebar di 24 desa. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Lahat, Drs Sutoko melalui Kabid Kebudayaan Rahmat Sri Fauzi Spd MM, menerangkan, benda-benda megalitikum itu di bawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi. “Sebagian besar s udah dipagar, ada juga yang belum,” katanya.
Pihaknya pun ikut sosialisasi ke kecamatan sampai ke desa agar melaporkan dan menjaga megalitikum di wilayahnya. “Kami yakin ada seribu lebih megalitikum di Lahat, hanya belum terdata saja,” ucapnya.
Pemerhati dan pengiat objek wisata Lahat, Mario Andramatik, menambahkan, hingga saat ini belum penetapan situs megalitikum menjadi cagar budaya. “Tapi mau jadi warisan dunia prosesnya panjang,” ujar Ketua Panaromic of Lahat ini.
Hasil pendataan mereka, ada 45 situs megalitikum tersebar di Lahat. Tiga situs terbesar di Tinggi Hari, Kecamatan Gumay Ulu terdiri dari arca, lumpang, menhir. Di Pulau Panggung, Kecamatan Pajar Bulan ada lesung. Lalu di Kota Raya Lembak, Kecamatan Pajar bulan ada bilik batu. “Kemungkinan masih banyak megalitikum belum ditemukan,” bebernya.
Bagaimana di daerah lain, Kepala Dinas Pariwisata Muratara, Firdaus melalui Sekretaris Zazili mengatakan Gua Napalicin itu berada di wilayah Taman Nas ional Kerinci Sebelat (TNKS) dan secara tak langsung menjadi aset warisan dunia. Meski saat ini belum terdaftar secara resmi. “TNKS diakui sebagai warisan dunia, harusnya objek wisata di dalamnya juga begitu,” akunya.
Sebab di gua tersebut juga ada potensi sejarah seperti Candi Lesung Batu yang kini masih diteliti arkeologi. “Sampai sekarang belum ada hasil pasti, tapi dulu sempat ada hasil penilitian Gua Napalicin juga disebut tempat tinggal manusia pra sejarah, karena ada sejumlah temuan,” tegasnya.
Sementara Bupati Empat Lawang, H Syahril Hanafiah mengatakan di daerahnya ada wisata budaya dan wisata alam. Wisata budaya seperti lomba serapungan yang merupakan tradisi leluhur. “Itu lomba berhanyutan di Sungai Musi menggunakan dua batang bambu. Serapungan ini sudah masuk dalam databased Disbudpar Sumsel,” katanya.
Kepala Bidang Promo Disbudpar OKI, Nuraidah, mengatakan, beberapa waktu lalu ada Tari Penguton dari Kementerian Pendidikan sebagai warisan tak bend a. “Sempat Bandar Lampung yang ingin mengambilnya, tapi dimenangkan OKI,” terangnya.
Tarian ini sudah jadi warisan tak benda bersertifikat Kemendikbud. Tari Penguton itu untuk nyambut tamu kebesaran, misalnya, presiden dan bupati, jadi tak bisa ditampilkan sembarang. Penarinya sembilan orang pakaian adat lengkap. “Tapi untuk cagar budaya lain yang diajukan sebagai warisan budaya belum ada hingga saat ini,” pungkasnya. (ebi/gti/bis/cj13/eno/uni/fad/ce1)

Berita Lainnya!

SMA Patra Mandiri I Kunjungi Graha Pena Alkohol Dicampur Air Sumur Barcelona Vs Celta Vigo Berakhir Imbang 2-2 Jika Kondisi Pilar Masih Layak, PUPR Hanya ak... Sumber: Google News | Berita 24 Sumsel

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »