www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pengamatan gerhana bulan ukur kadar polusi cahaya

Posted by On 20.57

Pengamatan gerhana bulan ukur kadar polusi cahaya

Pengamatan gerhana bulan ukur kadar polusi cahaya

id gerhana bulan,Zainuddin Muhammad Arifin,ilmuwan,penelitian bulan,gerhana bulan total,berita palembang,kadar polusi cahaya,atmosfir

Gerhana bulan . (ANTARA sumsel/Feny Selly/Ang/18)

Bandung (ANTARA News Sumsel) - Staf Penelitian Observatorium Boscha, Zainuddin Muhammad Arifin mengatakan, pengamatan gerhana bulan total dapat dijadikan sebagai media untuk mengukur kadar polusi cahaya di atmosfir.
"Kalau dari sisi penelitian sendiri kita bisa melakukan pengamatan atmosfir bumi, jadi merahnya bu lan itu karena pendaran cahayanya dari atmosfir bumi kita," kata Zainuddin di Observatorium Boscha, Lembang, Rabu.
Menurutnya, saat terjadi gerhana bulan total akan nampak seperti berwarna merah. Semakin merah bulan yang diamati, menandakan bahwa kadar polusi cahaya di sekitar langit masih baik.
Namun apabila saat terjadi gerhana bulan total menunjukan warna yang lebih gelap, dapat diindikasikan bahwa kadar polusi cahaya di atmosfir sudah tergolong buruk.
"Makanya kita sudah standby dari jam 19.52 WIB sampai 21.08 WIB. Itu kita harapkan jeda waktu tersebut bisa kita gunakan untuk dijadikan penelitian," kata dia.
Ia melanjutkan, selain untuk mengetahui kadar polusi cahaya, penelitian pun dapat diarahkan mengukur umbra atau bayangan bumi.
Gerhana bulan total kali ini dapat disebut istimewa, pasalnya menggabungkan tiga fenomena alam sekaligus yang disebut super-blue-blood-moon.
Disebut Super Moon, karena bulan masih berada di titik terdekatnya den gan bumi. Akibatnya bulan akan terlihat lebih besar dan bercahaya dari sebelum-sebelumnya.
Sementara dikatakan sebagai Blue Moon, karena ini merupakan bulan purnama kedua pada Januari. Bulan purnama pada bulan ini juga terjadi pada 1 Januari malam.
"Gerhana bulan total juga sering disebut Blood Moon karena saat gerhana total bulan tampak merah darah, karena cahayanya ditapis sedemikian rupa oleh atmosfer Bumi," kata dia.
Namun untuk gerhana bulan kali ini, langit di Bandung tertutup awan sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian. Masyarakat Bandung pun tidak bisa menikmati fenomena yang hadir ratusan tahun sekali ini.
"Sebenarnya bagi kita para peneliti biasa aja karena yang kita tunggu gerhana bulan total, yang penting gerhana bulan total. Nanti 28 Juli akan terjadi lagi kita akan menunggu yang 28 Juni," kata dia.
"Kalau masalah tiga fenomena itu, itu masalah masyarakat saja. Masyarakat bisa menikmati tiga fenomena dalam sat u waktu," lanjutnya.
(U.KR-ASP/Y. Ali)
Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018Sumber: Antara Sumsel Terkini

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »